Posted on

^ STUDI PENENTUAN EFEKTIVITAS PENYARINGAN LOGAM KROM (Cr) DAN NIKEL (Ni) PADA SISTEM PENYARING ELEKTROMAGNETIK ^

INTISARI
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan tingkat efektivitas
penyaringan logam berat jenis Cr dan Ni dalam senyawa larutan sampel
Cr(NO3)3.9H2O dan NiSO4.6H2O pada sistem peralatan elektromagnetik. Sistem
penyaring elektromagnetik terbuat dari lilitan kawat tembaga dengan diameter 0,5
mm, sebanyak 800 lilitan, yang dililitkan pada pipa PVC ukuran 1 inch dengan
panjang 50 cm, media penyerap yang digunakan berupa pasir besi sebanyak 837
gram yang dianggap homogen. Kecepatan aliran dibuat konstan yaitu sebesar 3,80
ml/s. Kadar awal larutan sampel yang digunakan sebesar 100 ppm, 200 ppm, 300
ppm, 400 ppm, dan 500 ppm. Untuk mengetahui besarnya kandungan logam
dalam larutan sampel setelah proses penyaringan dilakukan pengujian dengan
bantuan alat Atomic-absorption Spectrophotometer. Medan magnet yang
ditimbulkan oleh adanya arus listrik pada solenoida memagnetisasi pasir besi yang
digunakan untuk menyaring kandungan logam dalam larutan sampel. Hasil
penelitian didapatkan bahwa tingkat efektivitas tertinggi dicapai pada kadar awal
larutan sampel 100 ppm. Tingkat efektivitas penyaringan akan menurun secara
signifikan dengan bertambahnya waktu penyaringan dan kadar awal larutan
sampel. Penurunan ini disebabkan oleh adanya kejenuhan dari pasir besi yang
digunakan sebagai penyerap atau absorben. Tingkat efektivitas penyaringan lebih
baik pada penyaringan larutan sampel dengan kandungan logam jenis
Ferromagnetik (logam Nikel) dari pada Anti-Ferromegnetik/AFM (logam
Kromium). Hal tersebut dikarenakan sifat kemagnetan yang lebih tinggi pada
Ferromagnetik dari pada Anti-Ferromegnetik (AFM).
Kata kunci : penyaring elektromagnetik, efektivitas, logam berat.
BSS_241_1_2 – 15
ABSTRACT
The research was conducted to measure the effectiveness of filtering
process of Cr and Ni in Cr(NO3)3.9H2O and NiSO4.6H2O solution on the system
of electromagnetic filter. The electromagnetic filtration system consists of
solenoid which has 800 numbers of coils, PVC pipe with the 0.5 mm diameter, 50
cm length filled up with 837 grams of iron sand cores which are assumed
homogenous. The flow velocity is assumed constant, 3.8 ml/s. The metal
concentrations are 100ppm, 200ppm, 300 ppm, 400 ppm and 500 ppm. The final
results were tested using Atomic-absorption Spectrophotometer. The solenoid
contains electric current that causes iron magnetization process. The magnetic
field appeared is used to filter metal concentration of solution sample having
certain magnetic properties. The magnetic field has not been used in filtering
process without iron sand as absorber. The result shows that the highest
effectiveness was reached by smallest metal sample concentration. The
effectiveness was decrease significantly when the time of filtering duration and
sample concentrations were increased. It was happened because of iron sands
saturation effect. The filtering has better effectiveness in sample solution that
contain metal concentration whose magnetic properties is ferromagnetic than anti
ferromagnetic (AFM). It was happened because in ferromagnetic, the magnetic
characteristic is stronger than in AFM.
Keywords : electromagnetic filter, effectiviteness, heavy metal.
BSS_241_1_3 – 15
I. PENDAHULUAN
Air sangat penting dan utama bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Hampir semua kegiatan yang dilakukan
manusia membutuhkan air, mulai dari membersihkan diri (mandi, cuci, dan
kakus), membersihkan ruangan tempat tinggalnya, menyiapkan makanan dan
minuman sampai dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagian besar keperluan air
sehari-hari berasal dari sumber air tanah, air sungai, dan air yang berasal dari (air
ledeng). Oleh karena itu, kuantitas dan kualitas air sebagai sumber kehidupan
harus dipelihara, (Achmad, R., 2004).
Menurut WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), kualitas air khususnya
yang berasal dari air sungai di Indonesia pada umumnya telah dipengaruhi oleh
limbah domestik yang masuk ke badan air di samping limbah lainnya yang berasal
dari industri, usaha pertanian maupun usaha peternakan, (anonim (1), 2004).
Buruknya kualitas air sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia.
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan yang terjadi di tempat
penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah. Pencemaran air dapat
disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda,
(anonim (2), 2008).
Salah satu pencemaran air yang paling berbahaya yang sering terjadi
sekarang ini baik di Indonesia maupun di negara lain adalah pencemaran air oleh
logam berat. Beberapa jenis polutan logam berat yang bersifat toksik bagi
kesehatan manusia dan hewan adalah seperti tembaga (Cu), kobalt (Co), timbal
(Pb), cadmium(Cd), perak (Ag), nikel (Ni), krom (Cr), merkuri (Hg), arsen (As),
seng (Zn), besi (Fe), dan mangan (Mn). Apabila logam-logam berat tersebut
mencemari air yang selanjutnya terkonsumsi oleh tubuh manusia maupun
makhluk hidup yang lain, maka akan mengumpul dalam waktu yang lama yang
bersifat sebagai racun yang terakumulatif, artinya tidak bisa diurai oleh organ
tubuh, (anonim (3), 2006).
Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada permasalahan pencemaran air
oleh logam berat yang sering terjadi di masa sekarang ini. Penelitian ini
memanfaatkan prinsip medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya arus listrik
yang dialirkan pada sebuah solenoida ideal. Medan magnet ini yang digunakan
sebagai penyaring dalam sistem penyaring elektromagnetik. Sistem penyaring
elektromagnetik ini menggunakan media penyaring berupa pasir besi yang
merupakan bahan dengan mudah termagnetisasi. Metode ini sebelumnya pernah
dilakukan oleh Nilamsari dan Hartanto (2007), dimana ditunjukkan bahwa
penyaring elektromagnetik mampu menurunkan kadar logam Fe, Al dan Cu.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Suryantari dan Setyowati (2008), sistem
penyaring elektromagnetik ini mampu menurunkan kandungan logam dari jenis
Pb, Zn, Cd, Co, dan Mn.
BSS_241_1_4 – 15
Dalam penelitian ini akan ditunjukkan kemampuan penyaring
elektromagnetik terhadap penurunan kadar logam Ni dalam larutan senyawa
NiSO4.6H2O dan Cr dalam larutan senyawa Cr(NO3)3.9H2O. Metode ini dapat
dijadikan sebagai metode alternanif yang efektif dan efisien untuk mengatasi
pencemaran logam berat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi masyarakat dari semua lapisan agar dapat mengakses air bersih yang terbebas
dari logam, khususnya logam berat.
II. METODE PENELITIAN
Solenoida dibuat dari kawat tembaga dengan diameter 0,5 mm, yang
diliitkan pada pipa PVC yang berdiameter 1 inch, sebanyak 800 lilitan dengan
panjang lilitan 40 cm. Untuk membuat penyaring elektromagnetik, pada solenoida
diisi dengan pasir besi dengan massa 837 gram, kemudian dipasang sambungan
pipa PVC dan penutup pipa. Alat dan bahan lain yang digunakan untuk rangkaian
sistem penyaring elektromagnetik ini adalah bak penampung, penyaring dalam
dari bahan plastik, kertas saring dari bahan kasa, busa penyaring, rangkaian
penyearah, regulator, kran air dari bahan kaca, sambungan T dari bahan kaca,
selang air, tempat larutan sampel output, oven, kertas timah, magnet batang,
teslameter yang dilengkapi dengan tangential-B-probe, stopwatch, gelas beker 250
ml, labu takar 1000 ml, multimeter digital, peralatan Atomic-absorption
Spectrophotometer (AAS), serta peralatan pendukung seperti solder, lem plastik,
plester pipa PDAM, mistar, mikrometer geser, timbangan. Logam yang akan
disaring adalah logam nikel (Ni) dalam senyawa NiSO4.6H2O dan kromium (Cr)
dalam senyawa Cr(NO3)3.9H2O.
Larutan sampel logam logam nikel (Ni) dalam senyawa NiSO4.6H2O dan
kromium (Cr) dalam senyawa Cr(NO3)3.9H2O dialirkan melalui sistem penyaring
elektromagnetik dengan metode aliran lambat, yaitu dengan mengalirkan air ke
dalam penyaring melalui bagian bawah penyaring dan larutan akan keluar dari
bagian atas penyaring. Penyaringan dilakukan dengan debit aliran tetap yaitu
sebesar 3,80 ml/s. Dalam penelitian ini aliran larutan dan kuat medan magnet di
dalam solenoida dianggap ideal serta pasir besi dan kadar logam dalam larutan
dianggap homogen. Kuat arus yang dipakai dibuat konstan yaitu sebesar 3 A.
Larutan hasil penyaringan diuji dengan peralatan AAS untuk mengetahui kadar
akhir logam Ni dan Cr dalam larutan setelah mengalami proses penyaringan.
Skema susunan peralatan ditunjukkan oleh Gambar 2.1.
Pada penelitian ini dilakukan sepuluh kali penyaringan. Lima penyaringan
untuk larutan senyawa NiSO4.6H2O dan lima penyaringan sisanya penyaringan
larutan senyawa Cr(NO3)3.9H2O. Kadar awal yang digunakan adalah 100 ppm,
200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, dan 500 ppm untuk masing-masing larutan. Pada
setiap penyaringan dengan kadar awal tertentu diambil 3 larutan hasil penyaringan
BSS_241_1_5 – 15
dengan waktu pengambilan setiap 1 menit. Selanjutnya, hasil penyaringan tersebut
di analisi kadar akhirnya dengan menggunakan peralatan AAS.
Gambar 2.1 Skema susunan peralatan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada pengujian peralatan sistem penyaring elektromagnetik diperoleh
hambatan solenoida sebesar 7,6 ohm. Kuat arus maksimal yang dihasilkan oleh
rangkaian penyearah setelah dihubungkan dengan solenoida adalah 3,9 ampere.
Grafik hasil pengukuran kuat medan magnet awal dengan variasi kenaikan arus
listrik pada solenoida disajikan oleh gambar (3.1). Sedangkan hasil penyaringan
untuk masing-masing larutan senyawa disajikan dalam tabel 3.1.
Gambar 3.1 Grafik besar medan magnet terhadap variasi kuat arus listrik
pada solenoida
1
3
4
6
9
2
11
10
Arah aliran
larutan
5
7
12
8
7. Penampung larutan
untuk pengaturan debit
aliran
8. Regulator
9. Rangkaian penyearah
10. Multimeter digital
11. Penyaring elektromagnetik
12. Tempat larutan hasil
penyaringan
Keterangan Gambar 2.1 :
1. Wadah penampung
larutan yang akan
disaring
2. Selang air
3. Kran 1
4. Sambungan pipa T
5. Kran 2
6. Kran 3
BSS_241_1_6 – 15
Tabel 3.1 Hasil penyaringan
jenis logam Logam Cr Logam Ni
kadar
awal
(ppm)
waktu
(menit)
kadar akhir
(ppm)
efektivitas
(%)
kadar akhir
(ppm)
efektivitas
(%)
1 ttd 100 21 ± 1 79
2 ttd 100 22 ± 1 78
100 3 ttd 100 25 ± 1 75
1 36 ± 1 82 64 ± 1 68
2 75 ± 1 62,5 71 ± 2 64,5
200 3 98 ± 1 51 83 ± 1 58,5
1 112 ± 2 62,7 93 ± 1 69
2 156 ± 4 48 96 ± 1 68
300 3 206 ± 6 31,3 98 ± 1 67,3
1 329 ± 5 17,8 108 ± 7 73
2 362 ± 6 9,5 248 ± 4 38
400 3 403 ± 4 -0,7 324 ± 3 19
1 448 ± 2 10,4 418 ± 13 16,4
2 496 ± 3 0,8 434 ± 8 13,2
500 3 529 ± 4 -5,8 461 ± 10 7,8
Keterangan : ttd = tidak terdeteksi/dibawah batas deteksi alat. Batas deteksi Cr =
0,025 ppm.
III.1 Penentuan pengaruh jenis kemagnetan bahan pada larutan sampel
terhadap waktu penyaringan
Gambar 3.2 Grafik konsentrasi akhir terhadap waktu penyaringan pada
penyaringan dengan kadar awal 100 ppm
BSS_241_1_7 – 15
Gambar 3.3 Grafik konsentrasi akhir terhadap waktu penyaringan pada
penyaringan dengan kadar awal 200 ppm
Gambar 3.4 Grafik konsentrasi akhir terhadap waktu penyaringan pada
penyaringan dengan kadar awal 300 ppm
Gambar 3.5 Grafik konsentrasi akhir terhadap waktu penyaringan pada
penyaringan dengan kadar awal 400 ppm
BSS_241_1_8 – 15
Gambar 3.6 Grafik konsentrasi akhir terhadap waktu penyaringan pada
penyaringan dengan kadar awal 500 ppm
Untuk mengetahui pengaruh jenis kemagnetan bahan dalam larutan sampel
terhadap waktu penyaringan, dapat dilihat grafik hasil penyaringan pada gambar
3.2, 3.3, 3.4, 3.5, dan 3.6. Grafik-grafik tersebut memperlihatkan kadar akhir atau
kandungan logam hasil penyaringan larutan sampel. Hasil penyaringan
menunjukkan bahwa pada penyaringan dengan kadar awal yang kecil, dalam
penelitian ini sebesar 100 ppm, kadar akhir logam Cr lebih rendah dari pada
logam Ni yaitu mencapai 0 ppm (dalam hasil analisis AAS sebesar ttd). Hal ini
menunjukkan bahwa logam Cr lebih mudah ditarik oleh pasir besi yang digunakan
sebagai media penyerap dari pada logam Ni. Dengan bertambahnya kadar awal
larutan sampel, maka didapatkan hasil bahwa logam Ni mudah ditarik oleh pasir
besi dari pada logam Cr. Hal ini dapat dilihat dari segi jenis kemagnetan logam Cr
dan Ni. Logam Ni yang termasuk ferromagnetik akan mudah ditarik oleh pasir
besi dari pada logam Cr yang termasuk AFM (Anti-Ferromagnetik). Hal ini
disebabkan karena logam Ni mempunyai suseptibilitas yang positif dan besar,
sedangkan logam Cr mempunyai suseptibilitas yang positif dan kecil.
Suseptibilitas ini berhubungan dengan magnetisasi. Bahan yang mempunyai
suseptibilitas yang besar akan mempunyai magnetisasi yang besar begitu
sebaliknya sesuai dengan persamaan .
Grafik pada gambar 3.3 menunjukkan bahwa pada menit awal
(penyaringan 1 menit) kadar akhir logam Cr lebih rendah dari pada logam Ni.
Tetapi pada penyaringan 2 menit dan 3 menit terbalik keadaanya. Kadar akhir
logam Ni lebih rendah dari pada logam Cr. Penyaringan larutan sampel dengan
kadar awal 300 ppm menghasilkan kadar akhir logam Ni lebih kecil dari pada
logam Cr. Keadaan ini juga terjadi pada hasil penyaringan larutan sampel dengan
kadar awal 400 ppm dan 500 ppm. Tetapi, pada penyaringan tersebut terdapat satu
nilai yang menunjukkan kadar akhir lebih besar dari pada kadar awalnya yaitu
BSS_241_1_9 – 15
pada penyaringan logam Cr penyaringan 3 menit. Hal ini disebabkan oleh
terlepasnya kandungan logam yang sebelumnya tertahan dalam pasir besi karena
melemahnya sifat kemagnetan pasir besi. Melemahnya sifat kemagnetan ini dapat
disebabkan karena adanya panas sehingga menaikkan suhu pada sistem penyaring
elektromagnetik. Panas ini timbuk akibat dari adanya arus listrik yang mengalir
dalam solenoida. Untuk bahan yang termasuk ferromagnetik, suhu berpengaruh
pada sifat kemagnetannya, sehingga berubah menjadi paramagnetik.
III.2. Penentuan pengaruh kadar awal larutan sampel terhadap efektivitas
penyaringan
Gambar 3.7 Grafik efektivitas penyaringan terhadap konsentrasi awal larutan
sampel Cr(NO3)3.9H2O
Gambar 3.8 Grafik efektivitas penyaringan terhadap konsentrasi awal larutan
sampel NiSO4.6H2O
Pada sub bab ini ditunjukkan grafik efektivitas penyaringan terhadap
konsentrasi awal larutan sampel untuk masing-masing larutan sampel. Untuk
larutan sampel Cr(NO3)3.9H2O, tingkat efektivitas penyaringan 1 menit lebih
BSS_241_1_10 – 15
besar dari pada penyaringan 2 menit dan 3 menit. Dengan bertambahnya kadar
awal larutan sampel maka tingkat efektivitas penyaringan semakin menurun. Hal
ini disebabkan oleh kemampuan sistem penyaring elektromagnetik dalam
melakukan penyaringan. Kadar awal yang besar berarti bahwa kandungan
logamnya besar sehingga kerja sistem penyaring elektromagnetik semakin berat.
Sehingga menurunkan kemampuan sistem penyaring elektromagnetik dalam
melakukan penyaringan larutan sampel.
III.3. Penentuan besarnya tingkat efektivitas penyaringan larutan sampel
Cr(NO3)3.9H2O dan NiSO4.6H2O pada masing-masing konsentrasi awal dan
masing-masing waktu penyaringan
Gambar 3.9 Grafik batang tingkat efektivitas penyaringan terhadap jenis logam
pada penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi awal 100 ppm
Gambar 3.10 Grafik batang tingkat efektivitas penyaringan terhadap jenis logam
pada penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi awal 200 ppm
BSS_241_1_11 – 15
Gambar 3.11 Grafik batang tingkat efektivitas penyaringan terhadap jenis logam
pada penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi awal 300 ppm
Gambar 3.12 Grafik batang tingkat efektivitas penyaringan terhadap jenis logam
pada penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi awal 400 ppm
Gambar 3.13 Grafik batang tingkat efektivitas penyaringan terhadap jenis logam
pada penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi awal 500 ppm
BSS_241_1_12 – 15
Pada bagian ini digambarkan grafik dengan bentuk batang tingkat
efektivitas pada masing-masing penyaringan. Pada konsentrasi awal 100 ppm,
tingkat efektivitas Cr lebih besar dari pada Ni. Tingkat efektivitas Cr dapat
mencapai 100 % atau efektivitas maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa
penyaring elektromagnetik lebih efektif untuk menyaring larutan sampel yang
mengandung logam Cr. Dalam penyaringan dengan kadar awal larutan sampel
200 ppm, pada penyaringan 1 menit lebih efektif menyaring logam Cr, tetapi pada
penyaringan 2 menit dan menit 3 terbalik yaitu lebih efektif menyaring logam Ni.
Pada konsentrasi 200 ppm ini sifat kemagnetan bahan antara nikel yang termasuk
feromagnetik dan krom yang termasuk AFM atau anti-feromagnetik mulai
menunjukkan sifatnya yaitu bahan ferromagnetik akan mudah tertarik dari pada
bahan AFM. Pada penyaringan dengan kadar awal 300 ppm, 400 ppm, dan 500
ppm, sistem penyaring elektromagnetik lebih efektif menyaring larutan yang
mengandung logam nikel dari pada logam krom. Hal ini kembali disebabkan oleh
sifat kemagnetan bahan antara logam nikel dan krom.
Pada penelitian tugas akhir ini digunakan solenoida ideal yaitu solenoida
yang lilitannya sangat rapat dan sangat panjang dibanding diameternya. Solenoida
tersebut digunakan sebagai pembangkit medan magnet dengan dialirkannya arus
listrik pada solenoida tersebut. Dengan adanya kuat medan magnet belum berarti
medan magnet tersebut dapat digunakan untuk menarik bahan atau materi yang
mempunyai sifat kemagnetan seperti dari jenis logam. Oleh karena itu, harus
digunakan suatu media sebagai penyerap kandungan logam yang terdapat dalam
larutan sampel. Dalam penelitian ini digunakan pasir besi sebagai media penyerap
tersebut.
Larutan sampel yang dipakai adalah larutan yang mengandung logam berat
jenis kromium dengan larutan senyawa Cr(NO3)3.9H2O dan nikel dengan larutan
senyawa NiSO4.6H2O. Menurut sifat kemagnetan bahan, kemagnetan nikel yang
tergolong ferromagnetik lebih besar dari pada kromium yang tergolong AFM
(Anti-Ferromagnetik). Untuk bahan yang mempunyai jenis kemagnetan
ferromagnetik mempunyai nilai kemagnetan paling besar dari tingkat kemagnetan
bahan yang lain seperti paramagnetik, diamagnetik, AFM, dan ferrimagnetik. Dari
keseluruhan hasil penelitian menghasilkan bahwa pada penyaringan larutan
sampel NiSO4.6H2O lebih efektif dari pada penyaringan larutan sampel
Cr(NO3)3.9H2O. Meskipun pada penyaringan dengan kadar awal 100 ppm, untuk
penyaringan larutan sampel Cr(NO3)3.9H2O terdapat nilai efektivitas yang
maksimum yaitu 100 %. Dengan bertambahnya konsentrasi awal larutan sampel
maka tingkat efektivitas penyaringan akan semakin rendah. Kondisi ini
diakibatkan karena kerja sistem penyaring elektromagnetik semakin berat dan
kemampuan daya tarik pasir besi terhadap kandungan logam yang mulai
melemah.
BSS_241_1_13 – 15
Dalam melakukan penyaringan digunakan suatu nilai konstan untuk debit
aliran larutan sampel dengan menggunakan jenis aliran lambat yaitu sebesar 3,80
ml/s. Aliran yang dipilih adalah aliran lambat atau anti-gravitasi, hal ini berarti
bahwa alirannya dimulai dari bawah menuju ke atas pada bagian penyaring
elektromagnetik atau menentang arah gravitasi. Tujuan ini agar larutan sampel
mempunyai waktu yang lama berada dalam bagian penyaring elektromagnetik
sehingga proses penyaringan dapat maksimal menyaring kandungan logamnya.
Menurut (Hartanto, 2007), kualitas hasil penyaringan logam tembaga berbanding
terbalik dengan kecepatan aliran air yang masuk ke penyaring elektromagnetik.
Pernyataan ini berhubungan dengan lama tidaknya larutan sampel saat berada
dalam penyaring elektromagnetik. Dengan semakin lama larutan sampel berada
dalam penyaring elektromagnetik maka akan semakin banyak kandungan logam
yang akan tersaring. Tetapi harus dilihat juga dengan jenis kemagnetan bahan.
Pada bahan ferromagnetik, suhu yang tinggi dapat menyebabkan
kemagnetan bahannya melemah sehingga bahan ferromagnetik menjadi bahan
paramagnetik. Dengan semakin lama proses penyaringan, maka akan
menimbulkan kenaikan suhu karena adanya panas yang ditimbulkan oleh arus
listrik yang mengalir pada solenoida. Sehingga dapat merubah sifat kemagnetan
baik media penyerap maupun kandungan logam dalam larutan sampel.
IV.KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Semakin lama waktu pengambilan sampel hasil penyaringan akan
menyebabkan penurunan efektivitas penyaringan, yang disebabkan
oleh efek kejenuhan pasir besi sebagai media penyaring. Efektivitas
penyaringan tertinggi diperoleh pada saat pengambilan sampel hasil
penyaringan menit-menit pertama yang mencapai 100%.
2. Sifat kemagnetan bahan berpengaruh terhadap tingkat efektivitas
penyaring elektromagnetik. Untuk bahan yang tergolong jenis
ferromagnetik mempunyai tingkat efektivitas penyaringan lebih besar
dari pada tingkat efektivitas penyaringan pada bahan yang tergolong
jenis AFM (Anti-Ferromagnetik).
3. Sistem penyaring elektromagnetik yang mempunyai konfigurasi
seperti pada konfigurasi yang digunakan dalam penelitian tugas akhir
ini lebih efektif untuk penyaringan larutan sampel dengan konsentrasi
kandungan logam yang rendah.
BSS_241_1_14 – 15
4. Efektivitas tertinggi terjadi pada penyaringan logam kromium dengan
kadar awal 100 ppm pada penyaringan 1 menit, 2 menit dan 3 menit
yaitu 100 %, sedangkan efektivitas terendah terjadi pada penyaringan
logam kromium 500 ppm pada penyaringan 2 menit kedua yaitu 0,8 %.
SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kemampuan sistem
penyaring elektromagnetik dalam menurunkan kadar kandungan logam
berat, maka penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan berbagai
jenis logam berat, untuk mengetahui efektivitas penyaring
elektromagnetik terhadap jenis kandungan logam berat yang lain.
2. Perlu dilakukan penyaringan bertingkat agar diperoleh hasil
penyaringan yang lebih optimal terutama untuk kadar kandungan
logam pencemar yang tinggi.
3. Perlu dilakukan penelitian serupa dengan konfigurasi peralatan sistem
penyaring elektromagnetik yang lebih ideal sehingga tingkat
efektifitas penyaringan optimal terhadap suatu kandungan logam
tertentu.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua fihak yang telah memabntu
menyelesaikan makalah ini, terutama anakku Kanthi Nastiti S.Sos, MA. Ucapan
ini saya sampaikan juga kepada Dani yang telah setuju mengambil judul ini
sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana pada bidang fisika, Jurusan
Fisika FMIPA UGM.
BSS_241_1_15 – 15
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Rukaesih, Dr., M.Si., 2004, Kimia Lingkungan, Andi Offset, Yogyakarta
Anonim (1), 2004, Pencemaran Logam Berat Terjadi Di Teluk Buyat, 3 Agustus
2004,http://www.walhi.or.id/kampanye/tambang/buanglimbah/040803_b
uyatcemar_cu/
Anonim (2), 2008, Pencemaran Air, 9 Mei 2008,
http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_air
Anonim (3), 2006, Sebuah Penelitian Logam Berat Biang Keladi Pencemaran Air
Laut, 9 Maret 2006, http://www.pdpersi.co.id/kesehatan/lingkungan
Hartanto, Giri, 2007, Menentukan Pengaruh Kuat Arus, Kecepatan Aliran
Larutan Sampel, Serta Arah Medan Magnet Pada Sistem Penyaring
Nilamsari, Dewi Rr,2007, Studi Fisis Pengaruh Medan Magnet Pada Sistem
Penyaring Elektromagnetik Terhadap Penurunan kandungan Logam
Dalam Larutan Sampel, FMIPA, UGM.
Setyowati, Emerita, 2008, Studi Fisis Pengaruh Kuat Arus, Jenis Polutan Logam
dan Waktu Pengambilan Output Penyaringan terhadap Efektivitas
Penyaring Elektromagnetik, FMIPA, UGM, Yogyakarat
Suryantari, Risti, 2008, Studi Pengaruh Magnetisasi Pasir Besi Sebagai Media
penyaring terhadap Penurunan Kadar Polutan Logam Timbal (Pb),
FMIPA, UGM, Yogyakarta

About pakpakstudent

"bage ate mo rejkki, bage tennah mo no sodip" "rimo mungkur rimo kjaren...kene si mbue ukur kami mahan ajaren" "kita berpikir untuk bertindak, kita bertindak karena ada"